Beralih ke Digital Dengan Hadirkan Kreativitas dan Inovasi

oleh -
Beralih ke digitalisasi, pelaku UMKM harus cakap teknologi, hadirkan kreativitas dan inovasi. Foto: Istimewa

WartaPenaNews, Jakarta – Pandemi telah merubahah serta mengajarkan banyak hal. Salah satunya cara berbisnis secara digital yang menjadi konsep bisnis pada masa pandemi.

Tak terkecuali bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) yang harus segera belajar dan menguasai teknologi digital. Tidak cukup cakap teknologi, sejumlah kreativitas serta inovasi bisnis yang menyesuaikan kondisi pada masa pandemi harus dilakukan. Hal ini menjadi kunci sukses Veryaningsih (Ning), Irt dan pelaku usaha kuliner Ning Corner Home Made yang menyediakan kue-kue klasik otentik.

Bagi Ning, berbisnis secara online bukanlah hal yang baru, ia sudah melakukannya sejak dua tahun sebelum pandemi. Namun terkendala dengan kesibukan berjualan secara offline yang lebih menjanjikan omsetnya, serta kesibukan mengurus rumah tangga, bisnis onlinenya tersebut dilakukan sambil lalu.

“Saya jarang up-load foto kue, serta abai menghadirkan konsep desain media sosial yang menarik, “ujarnya.
Padahal omset penjualan online pada saat itu tidak terlalu rendah, berkisar 50 % – 60 %. ”

Ketika pandemi, mau tidak mau ia hijrah ke sistem penjualan online. “Ternyata tidak mudah berjualan kue secara digital. Selain harus meng – up – grade kemampuan di bidang sosial media, persaingannya juga sangat ketat.

Tiga bulan pertama omsetnya hanya berkisar 20 hingga 30 persen. Ia merasakan kondisi bisnis yang sulit imbas pandemi.

Pelanggan banyak yang khawatir akan penularan virus Covid-19 melalui makanan, serta layanan antar. Dari sini muncul ide untuk membuat konsep promosi yang menyesuaikan dengan masa pandemi, “kata Ning.

Lebih lanjut Ning menceritakan, “Ada banyak pertanyaan seputar produksi dari pelanggan. Apakah pemasaknya menggikuti prokes seperti menggunakan masker, jaga jarak. Selain ingin mengetahui kondisi tempat memasak, cara mengemas, hingga kebersihan pengantar makanan.

Sebagai seorang perempuan dan ibu, saya memaklumi sifat kritis, serta kehati-hatian calon pembeli. Pikiran saya sama seperti mereka. Khawatir, jika makanan yang kita pesan dapat membawa serta menularkan virus ke rumah!

Untuk memastikan keamanan pangan di masa pandemi Covid-19, saya melakukan prokes ketat pada proses produksi. Jadwal kerja karyawan diberlakukan bergantian, mengingat pasar sedang lesu. ”

Strategi promosi sukses “ala Ning”, berikan sampel kue gratis ke pelanggan. Foto: Istimewa

“Untuk meyakinkan pelanggan baru di platform media sosial bukan perkara mudah. Utamanya soal rasa kue yang saya jual, mereka tidak mudah percaya begitu saja dengan tampilan kue yang tertata dan difoto cantik.

Hal ini saya siasati dengan mengirim sampel kue ke rumah pelanggan, jika mereka berniat order dalam jumlah besar. Walau sampel, tapi pelaksanaannya saya lakukan secara profesional. Pada kemasan, saya sertakan info bahwa usaha yang saya lakukan, telah mengikuti kaidah prokes sesuai anjuran pemerintah, “ujar Ning.

Strategi promosi dengan mengirim sampel kue gratis yang akan dipesan tersebut mampu menumbuhkan kepercayaan pembeli. Mereka kemudian mulai berani melakukan order.

“Setiap pesanan dalam jumlah besar, saya senantiasa menyertakan sampel kue gratis yang belum pernah mereka pesan. Sehingga pelanggan dapat mengetahui dan merasakan jenis kue lainnya.”
Inovasi lain ia lakukan dengan membuat video brand usahanya yang di unggah di kanal media sosial miliknya.

Memenangkan Persaingan dengan Strategi Promosi dan Komunikasi

“Menurut saya, berpromosi menggunakan foto di masa pandemi masih kurang. Harus ada bentuk lain berupa video yang memperlihatkan proses produksi secara lengkap, suasana dapur, hingga ketika akan dikirim oleh supir ke rumah pelanggan.

Diawal, saya akan menyapa pelanggan, berpromosi, serta menyampaikan apresiasi kepada mereka.
Penting bagi pelanggan untuk mengetahui sosok pemilik usaha, siapa, bagaimana, dimana kue dibuat, serta diantar ke rumah mereka, agar hadir rasa aman dan nyaman ketika menikmatinya, “ujar Ning.

“Saya membangun komunikasi yang baik dengan pelanggan, kekhawatiran serta masukkan dari mereka menjadi ide segar untuk menghadirkan sejumlah inovasi, bahkan jalan keluar atas masalah bisnis yang saya hadapi.

Selain dengan pekerja di bagian produksi, saya juga bekerja sama dan menjalin komunikasi yang baik dengan pengemudi. Jasa delivery menjadi bagian dari kunci sukses usaha ini. Saya harus memastikan supir telah melaksanakan prokes dengan baik, waktu antar yang tidak meleset, ramah dan sopan ke pelanggan.

Saya juga menciptakan pasar dengan bergabung ke komunitas pengusaha kuliner, pecinta kuliner untuk mempromosikan produk. Berharap agar hadir promosi dari mulut ke mulut, “kata Ning.

“Saya berusaha untuk tidak mudah lelah dan bosan menjawab banyaknya pertanyaan yang itu-itu saja. Berusaha untuk lebih fleksibel, dengan tidak menolak order di luar waktu tenggat waktu yang sudah saya tentukan. Jika bahan yang dibutuhkan tersedia lengkap, saya rela berpeluh untuk membuat sendiri jika itu di luar jam kerja. ”

Untuk semua upaya tersebut, Ning hanya mengambil keuntungan secukupnya. Masih ekonomis, tapi tetap kompetitif dengan brand lain.

Ikon kue klasik paling banyak dicari pembeli selama pandemi. Foto: Istimewa.

Ada seratus jenis kue klasik yang terdiri dari jajan pasar, kue dan cake, serta dessert bisa dipesan khusus (made by order), maupun pre – order melalui platform media sosial. Harga kue yang ditawarkan berkisar dari Rp. 4.000,- untuk jajan pasar, hingga Rp. 600,000,- untuk kue lapis legit ukuran satu loyang.

Upayanya tersebut kini berbuah manis, aktivitas sehari-hari di dapurnya bisa menjadi acuan bagi pelaku usaha kecil lainnya untuk tetap memiliki semangat berusaha. Aroma sedap adonan dan kue yang baru matang dari oven senantiasa tercium dan membuat keseharian Ning bersama karyawan selama pandemi menjadi lebih bermakna.

Menurut Ning, saat Work From Home (WFH) masih banyak dilakukan oleh perkantoran, peluang berbisnis kue secara daring masih terbuka lebar. Karena selama WFH, konsumsi masyarakat cenderung meningkat, namun mereka lebih selektif memilih makanan yang lezat dan sehat dari pelaku usaha yang amanah. Ini menjadi tantangan buat pelaku usaha UMKM untuk selalu menghadirkan kreativitas dan inovasi melalui digitalisasi usaha. “(bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.