Geolog Sebut Aktivitas Gempa Darat di Jawa Bagian Barat Lebih Tinggi

oleh -20 Dilihat

wartapenanews.com – Geolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Gayatri Indah Marliyani menuturkan, aktivitas kegempaan di Pulau Jawa bagian barat yang dipicu sesar aktif di darat lebih tinggi ketimbang daerah lain di Jawa.

Gayatri menjelaskan, gempa yang terjadi di darat seperti di Cianjur, Jawa Barat (Jabar) biasanya memiliki kedalaman dangkal yakni kurang dari 15 Km. Oleh karena itu, guncangannya akan dirasakan dengan kuat di permukaan.

“Jika jalur sesar di darat ini dekat dengan wilayah pemukiman, harus diwaspadai,” kata dia, Kamis (25/11/2022).

Munculnya pusat gempa di daratan, menurut Gayatri, dipicu sumber gempa pada zona subduksi. Selain itu, sumber gempa lain berupa sesar-sesar aktif yang berada di darat.

Lebih jauh, dia memaparkan, ada banyak sesar aktif di Jawa yang sudah teridentifikasi dengan baik. Sesar aktif ini antara lain Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, Sesar Opak, Sesar Baribis, Sesar Kendeng. Termasuk banyak sesar lainnya.

Adapun terkait gempa Cianjur dengan magnitudo cukup besar 5.6 dan hiposenter dangkal yakni 11 km disebabkan pergerakan sesar aktif di darat.

“Sumber gempa yang dekat dengan permukaan serta magnitudo cukup besar menyebabkan dampak merusak cukup meluas. Terutama di sepanjang jalur sesar tersebut,” kata dia.

Sementara itu, banyaknya bencana tanah longsor akibat gempa di wilayah sekitar Cianjur, Sukabumi dan Bogor dipicu berbagai jenis batuan di sekitar area tersebut dengan kemiringan lereng tinggi.

Selain itu, batuan di wilayah Cianjur, Sukabumi tersusun oleh material hasil letusan gunung api yang masih lepas-lepas dan tebal.

“Ketika terkena guncangan keras akibat gempa bumi, lapisan tanah dan batuan lepas yang berada pada lereng yang terjal akan mudah bergerak dan longsor,” ujar dia.

Mengenai banyaknya korban jiwa akibat gempa di Cianjur, menurut Gayatri, penyebab terbesar karena tertimpa bangunan rumah. Apalagi tidak semua rumah warga dibangun dengan metode tahan guncangan gempa.

Karena itu, Gayatri mendorong pemerintah dan lembaga terkait memetakan sumber gempa dengan baik. Upaya lain yaitu menghitung besaran dampaknya.

Pembaruan dari peta sumber dan bahaya gempa harussecara berkala untuk mengakomodasi penemuan-penemuan baru. Hal ini untuk melengkapi basis data dan memperbaiki model seismic hazard yang dihasilkan.

“Setelah peta sumber sudah ada, hasil ini harus dituangkan dalam aturan dan tata cara untuk bangunan tahan gempa. Aturan dan tata cara ini harus ditaati dan kontrol pelaksanaannya harus diperketat,” ujar Gayatri menambahkan.  (mus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.