Kini Saatnya Mengembangkan Destinasi Wisata Lokal di Masa Pandemi Covid-19

oleh -
Geopark Karangsambung, Kebumen | YouTube

WartaPenaNews, Jakarta – Bupati Gunung Kidul Mayor Chb. (Purn.) H. Sunaryanta mengungkapkan kegelisahannya lantaran dampak pandemi telah membuat pendapatan dari sektor pariwisata turun. Pada masa sebelum pandemi pendapatan daerah dapat mencapai Rp24 miliar, tetapi pada masa pandemi turun separuhnya.

Meski demikian dia memberikan apresiasi kepada pemerintah yang tetap membangun berbagai potensi wisata sehingga dapat tumbuh dengan cepat ketika pandemi usai.

Di Kabupaten Gunung Kidul ada sejumlah potensi wisata yang cukup besar adalah destinasi pantai, yang panjangnya mencapai 72 km yang memiliki 122 destinasi pantai, dan destinasi gua yang mencapai 772 lokasi.

“Pemerintah juga sedang mengembangkan Desa Wisata Mandiri, mengembangkan wisata kuliner, dan meningkatkan kualitas infrastruktur untuk meningkatkan kenyamanan dalam menjangkau objek-objek wisata di kabupaten Gunung Kidul,” ujar Sunaryanta pada diskusi webinar, Selasa (29/6/2021).

Sementara itu, Bupati Kebumen, Arif Sugiyanto mengatakan destinasi wisata di wilayahnya cukup banyak, antara lain, adalah wisata pantai yang mencapai panjang 57,5 km, wisata goa, air terjun, bekas gunung berapi, Benteng Van der Wijck, waduk, dan pemandian air panas dengan air laut.

“Di Kebumen terdapat destinasi yang masuk Geopark Nasional, yaitu Karangsambung-Karangbolong,” ujar Arif.

Pada masa sebelum pandemi, sekitar 13 ribu wisatawan asing yang dapat untuk mengunjungi lokasi
tersebut. Meskipun demikian, pada masa pandemi sempat menerapkan sistem gas dan rem, di mana pada saat lebaran beberapa lokasi wisata dibuka, namun kembali ditutup setelah kasus covid-19 meningkat.

“Pemerintah Daerah berharap agar ada dukungan Pemerintah Pusat agar destinasi wisata di Kebumen mendapatkan dukungan, termasuk agar Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dapat masuk menjadi UNESCO Global Geopark (UGG),” ungkap Arif.

Pada kesempatan sama, Ketua Umum Asosiasi Pariwisata Nasional (ASPARNAS) Dr. Ngadiman mengatakan bahwa pandemi sangat berdampak pada usaha wisata, di mana occupance rate-nya 20—30 persen.

Okupansi paling tinggi hanya di Labuan Bajo, sekitar 40—45 persen karena menjadi tujuan favorit. Pandemi juga menurunkan wisatawan asing yang hanya mencapai 4 juta (2020), turun 74,8 persen dibandingkan dengan tahun 2019. Sementara itu, wisatawan nusantara turun sekitar 29 persen.

“Oleh karena itu, yang bisa dilakukan adalah menggalakkan gerakan cinta nusantara dengan berlibur ke destinasi lokal, mengonsumsi kuliner lokal, menikmati pertunjukan budaya lokal, dan belanja produk lokal,” ujar Ngadiman. (rob)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.